MonitorUpdate.com – Momentum Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dimanfaatkan Wahdah Islamiyah untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan terhadap warga Palestina. Di tengah situasi Gaza yang masih menghadapi krisis berkepanjangan, lebih dari 100 anak Palestina mengikuti kegiatan “Pesta Rakyat & Senyum untuk Gaza”.
Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) bersama Komite Solidaritas KITA Palestina dan didampingi tokoh lokal Syekh Mundzir. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian solidaritas yang digaungkan dalam momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak Gaza diajak mengikuti berbagai permainan dan perlombaan bernuansa perayaan kemerdekaan Indonesia. Mulai dari tarik tambang, balap karung, mencari hadiah dalam tepung, permainan kursi, hingga kuis budaya dan pengetahuan umum.
Suasana tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk sejenak menikmati kegembiraan di tengah kondisi kehidupan yang jauh dari normal akibat konflik dan krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza.
Baca Juga: Global Sumud Flotilla Tak Berhenti di Laut, Kini Menatap Rekonstruksi Gaza
Ketua Dewan Syura DPP Wahdah Islamiyah sekaligus Pembina KITA Palestina, Ustaz Muh Ikhwan Jalil, mengatakan solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti meski perhatian publik terhadap konflik mengalami pasang surut.
“Kemerdekaan Palestina bukan hanya mimpi orang-orang Palestina, melainkan juga merupakan mimpi dan cita-cita umat Muslim di seluruh dunia. Maka jangan pernah berhenti untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina,” tegas Ikhwan dalam keterangannya.
Ia menilai penderitaan masyarakat Palestina merupakan persoalan kemanusiaan yang perlu mendapatkan perhatian masyarakat internasional, termasuk masyarakat Indonesia.
“Penderitaan masyarakat Palestina adalah penderitaan kita dan kebahagiaan masyarakat Palestina juga merupakan kebahagiaan bagi kita,” lanjutnya.
Gaza Masih Menghadapi Krisis Kemanusiaan
Solidaritas tersebut berlangsung ketika kondisi kemanusiaan di Gaza masih sangat berat. Laporan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Gaza masih menghadapi kondisi pengungsian dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Dalam laporan 14 Agustus 2026, OCHA menyebut sekitar 90 persen penduduk Gaza mengalami gangguan akses terhadap air bersih yang aman dan dapat diandalkan. Kondisi tersebut memperbesar risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
UNICEF juga melaporkan pada awal Agustus bahwa sedikitnya 300 anak dilaporkan tewas dalam 300 hari sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025. Badan PBB tersebut memperingatkan bahwa anak-anak Gaza masih menghadapi kekerasan, malnutrisi, penyakit, persoalan air bersih, serta rusaknya sistem sanitasi.
Kondisi nutrisi anak juga masih menjadi perhatian. Survei SMART UNICEF yang dirilis 24 Agustus 2026 menemukan bahwa 12,2 persen anak di bawah lima tahun di wilayah Gaza yang dapat diakses dalam survei mengalami stunting atau gagal tumbuh kronis. Survei tersebut juga menunjukkan kualitas pola makan anak masih menjadi persoalan serius.
Bukan Sekadar Bantuan Materi
Direktur Utama Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ), Syahruddin, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan hanya untuk memberikan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga menghadirkan ruang kebahagiaan dan dukungan psikososial bagi anak-anak Gaza.
“Momentum kemerdekaan ini kita jadikan sebagai pendorong utama semangat berbagi. Indonesia telah merdeka, namun hati dan jiwa rakyat Indonesia akan selalu membersamai perjuangan saudara-saudara kita di Gaza,” ujar Syahruddin, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, bantuan yang diberikan diharapkan dapat menjadi penguat moral bagi anak-anak yang hidup dalam situasi penuh tekanan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menyalurkan kekuatan batin dan menghadirkan sedikit kebahagiaan di tengah duka mereka. Perjuangan kita masih panjang, dan mari kita terus berdoa agar bangsa Palestina bisa segera menyusul, meraih kemerdekaan yang hakiki,” katanya.
Selain mengikuti berbagai perlombaan, anak-anak Gaza juga menerima hadiah kemerdekaan dengan ornamen Merah Putih dan Palestina, perlengkapan sekolah, kebutuhan harian, serta bantuan bahan makanan pokok untuk keluarga mereka.
Bagi penyelenggara, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa solidaritas kemanusiaan tidak hanya diwujudkan melalui bantuan material, tetapi juga melalui kehadiran, perhatian dan dukungan psikososial.
Anak-anak peserta kegiatan kemudian menyampaikan ucapan kepada masyarakat Indonesia dengan kalimat, “Kullu ‘am wa antum bikhair, Indonesia!”
Kegiatan tersebut ditutup dengan harapan agar program dukungan psikososial dan hiburan edukatif bagi anak-anak Gaza dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Di tengah krisis yang masih membayangi Gaza, senyum anak-anak dalam kegiatan tersebut menjadi pesan sederhana bahwa bantuan kemanusiaan tidak selalu berbentuk materi. Bagi mereka, perhatian dan persaudaraan juga menjadi bagian penting dari harapan untuk menatap masa depan yang lebih damai. (MU01)


