MonitorUpdate.com – Nahas dialami Komar (57), warga RT 01/RW 07, Kampung Kebon Kopi, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Saat membersihkan empangnya beberapa waktu lalu, matanya terkena serpihan kulit keong hingga mengalami luka pada kornea dan harus menjalani operasi.
Kepada MonitorUpdate, Komar menceritakan peristiwa tersebut bermula ketika dirinya sedang merapikan galengan atau parit empang menggunakan cangkul.
“Awalnya saya sedang merapikan galengan empang. Saat sedang mencangkul, tiba-tiba mata saya terkena pecahan kulit keong. Karena pedih luar biasa, saya langsung cuci muka dengan air di sekitar empang,” ujar Komar, Jumat (2/10/2026).
Namun, setelah membasuh wajah, rasa sakit yang dialaminya tidak kunjung mereda. Sebaliknya, rasa perih justru semakin hebat sehingga Komar memutuskan berobat ke rumah sakit setempat.
Karena keterbatasan fasilitas, ia kemudian dirujuk ke rumah sakit di kawasan Cinere. Dari sana, Komar kembali mendapatkan rujukan ke rumah sakit di Jakarta Utara untuk menjalani tindakan operasi pada matanya.
Menurut Komar, dokter menyebut kondisi yang dialaminya sebagai ulkus.
“Penjelasan dari dokter katanya ini ulkus,” tuturnya.
Komar mengaku rasa sakit yang dirasakan sangat luar biasa. Matanya terasa seperti ditusuk benda tajam, bahkan rasa sakit tersebut menjalar hingga ke bagian kepala.
“Duh, sakitnya luar biasa, seperti dicucuk-cucuk benda tajam,” katanya.
Sebagai informasi, dalam istilah medis ulkus kornea mata yaitu luka yang terbentuk pada lapisan bening paling depan mata. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis karena infeksi dapat menyebar dengan sangat cepat dan berisiko menyebabkan kebutaan permanen jika terlambat ditangani
Awalnya Hanya Membersihkan Empang
Peristiwa yang dialami Komar tersebut bermula dari aktivitas sehari-hari di empang. Ia tak menyangka pekerjaan membersihkan galengan justru membuat dirinya harus menjalani perawatan serius pada mata.
Selain insiden tersebut, Komar juga mengungkap persoalan lain yang terjadi di empang tempat ia bekerja. Sebelum matanya terkena serpihan keong, ratusan ikan gurame yang dipeliharanya dilaporkan mati.
Menurut Komar, air empang sempat berubah menjadi putih keruh. Sekitar 15 hari kemudian, saat hendak mencari rumput, ia kembali melihat perubahan warna air menjadi agak kebiruan.
Ikan gurame yang mati tersebut, kata Komar, sebagian besar sudah berukuran besar dan siap dipanen dengan berat rata-rata sekitar 1,5 kilogram.
Kondisi itu membuat Komar panik. Ia kemudian melaporkan banyaknya ikan yang mati kepada ketua lingkungan setempat.
Komar menduga perubahan kualitas air menjadi salah satu penyebab matinya ikan-ikan tersebut. Ia juga menduga sumber pencemaran berasal dari aliran air yang berada di sekitar rumah sakit swasta yang lokasinya bersebelahan dengan empang.
“Kalau saya mau cari rumput, cairan tersebut keluar dari arah rumah sakit melalui selokan kecil, berbusa dan bau,” ungkapnya.
Komar yang mengaku hanya sebagai pengelola empang juga merasa bingung harus menyampaikan persoalan tersebut kepada siapa, dia juga belum melaporkannya ke pemilik lahan.
Ia kemudian menghubungi pihak rumah sakit melalui pesan WhatsApp. Beberapa waktu setelah komunikasi tersebut, Komar mengaku menerima uang kerohiman sebesar Rp1,5 juta dari pihak rumah sakit.
Namun, terkait dugaan pencemaran air empang maupun kaitannya dengan kematian ikan, hingga berita ini ditulis belum ada verifikasi independen yang memastikan sumber pencemaran serta penyebab pasti matinya ikan tersebut.
(MU02)


