MonitorUpdate.com — Di tengah ambisi Jakarta menjadi kota global yang sejajar dengan pusat-pusat ekonomi dunia, muncul satu pertanyaan mendasar: sejauh mana masyarakat Betawi sebagai penduduk asli ikut menikmati hasil kemajuan tersebut? Di balik pembangunan, modernisasi, dan pertumbuhan ekonomi, perdebatan mengenai posisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Betawi kembali mengemuka.
Transformasi Jakarta menuju kota global terus dipercepat. Pemerintah mendorong penguatan infrastruktur, layanan publik, investasi, hingga pengembangan ekonomi kreatif agar ibu kota mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia.
Namun di tengah agenda besar itu, muncul diskursus yang tidak kalah penting: apakah masyarakat Betawi sebagai kelompok masyarakat asli Jakarta ikut bergerak maju, atau justru menghadapi tekanan sosial dan ekonomi akibat perubahan tersebut.
Isu tersebut kembali menjadi perhatian karena kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan memastikan masyarakat lokal tetap memiliki ruang hidup, kesempatan, dan peran strategis.
Dalam konteks itu, masyarakat Betawi dinilai memiliki posisi penting. Selain sebagai pemilik akar sejarah Jakarta, komunitas ini juga menjadi penjaga identitas budaya yang selama ini membentuk karakter ibu kota.
Kemajuan Tak Hanya Soal Gedung dan Investasi
Secara umum, kemajuan suatu daerah diukur dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan, mencakup aspek ekonomi, pendidikan, sosial, politik, budaya, hingga lingkungan.
Indikatornya meliputi pertumbuhan ekonomi, kualitas infrastruktur, akses pendidikan, pelayanan publik, kesempatan kerja, serta distribusi hasil pembangunan.
Namun indikator lain yang tak kalah penting adalah aspek kualitatif: apakah seluruh kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang, memiliki akses terhadap jabatan strategis, dan merasakan manfaat pembangunan secara proporsional.
Di titik inilah perdebatan tentang kondisi masyarakat Betawi muncul.
Tiga Pandangan tentang Posisi Betawi Hari Ini
Pandangan pertama menilai masyarakat Betawi telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan.
Kelompok ini menunjuk sejumlah capaian kebijakan dan pengakuan formal terhadap identitas Betawi, mulai dari lahirnya Perda Pelestarian Kebudayaan Betawi, penguatan simbol budaya dalam ruang publik Jakarta, hingga pengakuan posisi Jakarta sebagai daerah khusus.
Kemajuan juga dinilai terlihat dari tumbuhnya sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, berkembangnya sanggar seni, serta meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian kesenian seperti lenong, palang pintu, dan tari Betawi.
Selain itu, keterwakilan tokoh Betawi dalam struktur pemerintahan dan parlemen daerah disebut menjadi indikator meningkatnya posisi sosial-politik masyarakat Betawi.
Namun pandangan berbeda datang dari kelompok yang melihat kondisi saat ini justru menunjukkan gejala marjinalisasi.
Narasi Kemajuan Dinilai Belum Menjawab Persoalan Dasar
Kelompok kedua berpandangan simbol budaya belum otomatis mencerminkan kemajuan substantif.
Mereka menyoroti fenomena bergesernya komunitas Betawi ke wilayah penyangga Jakarta akibat tekanan ekonomi dan meningkatnya nilai lahan. Fenomena perpindahan ke wilayah seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang dipandang sebagai sinyal berkurangnya ruang hidup masyarakat asli di pusat kota.
Kritik juga diarahkan pada praktik pelestarian budaya yang dinilai masih seremonial.
Beberapa ikon budaya Betawi disebut mengalami penurunan fungsi dan nilai. Salah satu contoh yang kerap menjadi sorotan ialah penggunaan ondel-ondel untuk aktivitas mengamen, yang dianggap menggeser makna simbol budaya menjadi sekadar alat ekonomi.
Kelompok ini juga mempertanyakan sejauh mana representasi tokoh Betawi di birokrasi dan politik benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi, serta penciptaan kelas menengah dan pengusaha Betawi yang lebih kompetitif.
Menurut pandangan ini, kemajuan pendidikan masyarakat Betawi memang terjadi, tetapi kecepatannya dinilai belum mampu mengejar kelompok masyarakat lain yang telah lebih dulu menguasai sektor usaha dan ekonomi modern.
Tantangan Terbesar Ada pada Generasi Muda
Di luar dua pandangan tersebut, terdapat kelompok masyarakat yang dinilai belum memiliki perspektif kuat mengenai posisi Betawi di era kota global.
Kelompok ini hadir lintas generasi, tetapi perhatian terbesar tertuju pada generasi muda.
Di tengah derasnya arus budaya populer global, muncul kekhawatiran bahwa kedekatan generasi milenial dan Gen Z terhadap identitas budaya Betawi mulai berkurang.
Ketertarikan terhadap budaya populer internasional, perubahan pola konsumsi, serta minimnya interaksi dengan tradisi lokal dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi regenerasi identitas budaya Betawi.
Perbaikan Harus Dimulai dari Pendidikan dan Ekonomi
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, satu benang merah yang mengemuka adalah perlunya strategi pemajuan yang lebih konkret.
Perdebatan mengenai apakah Betawi sudah maju atau masih tertinggal pada akhirnya bermuara pada kebutuhan memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan yang lebih tinggi, peningkatan daya saing, serta lahirnya wirausahawan menengah dan besar dipandang menjadi agenda yang lebih mendesak dibanding sekadar penguatan simbol budaya.
Selain itu, partisipasi aktif masyarakat Betawi di organisasi sosial, kepemudaan, dunia usaha, politik, hingga pemerintahan dinilai menjadi faktor penting untuk memperbesar pengaruh dan memperluas ruang representasi.
Dalam konteks Jakarta sebagai kota global, pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah pembangunan harus berjalan, melainkan apakah pembangunan itu mampu berjalan tanpa meninggalkan masyarakat yang sejak awal menjadi bagian dari sejarah kota tersebut. (MU01)


