MonitorUpdate.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengingatkan bahwa penanganan bencana tidak boleh lagi dilakukan secara insidental atau hanya saat bencana terjadi. Di tengah meningkatnya ancaman kekeringan, banjir, dan tanah longsor, kesiapsiagaan dinilai harus menjadi budaya yang dibangun sepanjang tahun.
Pesan tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin atau Gus Rozin saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Gus Rozin, kerja-kerja kemanusiaan harus melampaui sekat organisasi, kepentingan politik, maupun perbedaan agama. Dalam situasi bencana, keselamatan manusia menjadi prioritas utama yang harus diutamakan seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU 2026, KH Zulfa Mustofa Siap Maju Ketum PBNU Jika Diminta Daerah
“Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antar-elemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. Kemanusiaan adalah fondasi utama,” ujar Gus Rozin.
Ia menilai Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah yang hampir setiap tahun menghadapi ancaman bencana alam dengan karakter yang berbeda pada setiap musim. Saat kemarau, sejumlah daerah seperti Klaten kerap mengalami krisis air bersih. Sementara pada musim hujan, banjir dan tanah longsor rutin melanda wilayah Demak, Grobogan, Pekalongan, Brebes, Tegal hingga Purbalingga.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi alasan mengapa kesiapsiagaan relawan harus terus diperkuat melalui latihan, simulasi, dan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan.
“Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus,” tegasnya.
Apel kesiapsiagaan tersebut diikuti 418 peserta, dengan 270 orang di antaranya merupakan peserta aktif Jambore Relawan NU Peduli. Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah sebagai bagian dari konsolidasi relawan menghadapi potensi bencana di berbagai daerah.
PWNU Jawa Tengah juga menekankan pentingnya penanganan pascabencana yang tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis para penyintas.
Menurut Gus Rozin, relawan memiliki tanggung jawab mengembalikan rasa aman dan martabat korban melalui program trauma healing yang akan melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, Fatayat NU, dan komunitas kemanusiaan.
“Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan cuma memikirkan pemulihan fisik dan rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan kehormatan serta kesehatan mental para korban,” katanya.
Dalam kesempatan itu, NU Peduli juga memperkenalkan sejumlah langkah penguatan kapasitas relawan, di antaranya peluncuran aplikasi NU Risk sebagai sistem pelaporan bencana secara real time dan basis data relawan, penyerahan bantuan tenda komando serta peralatan dapur umum dari BPBD Jawa Tengah, penyaluran bantuan air bersih bagi daerah terdampak kekeringan oleh LAZISNU Jawa Tengah, hingga penanaman pohon sebagai simbol komitmen pengurangan risiko bencana.
Apel kesiapsiagaan turut dihadiri unsur Forkopimda, Wakil Ketua LPBI PBNU Sobirin, Ketua NU Peduli Jawa Tengah KH Mandzur Labib, serta para pimpinan lembaga NU. Ratusan relawan dari LPBI NU, LAZISNU, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, Pagar Nusa hingga relawan BPBD dan PMI mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan sinergi penanggulangan bencana di Jawa Tengah. (MU01)


