MonitorUpdate.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Keduanya ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sembilan ulama yang tergabung dalam AHWA melakukan musyawarah untuk menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Untuk posisi Ketua Umum, Gus Kikin sebelumnya menjadi kandidat dengan perolehan suara terbanyak dalam tahap penjaringan, yakni 472 suara.
Di tengah hasil tersebut, pengamat sekaligus penulis Dahlan Iskan melalui catatannya berjudul “Ahli Uang” mempertanyakan kembali makna dan peran AHWA dalam menentukan kepemimpinan tertinggi NU.
Menurutnya, AHWA idealnya merupakan forum para ulama yang mampu mengurai persoalan rumit, menyatukan perbedaan, sekaligus menghasilkan keputusan yang dapat diterima berbagai pihak.
Baca Juga: Gus Kikin Nahkodai PBNU 2026–2031, Jalin Pena Indonesia Sampaikan Pesan Ini
Dahlan juga menyoroti kembali terpilihnya KH Miftachul Akhyar untuk periode kedua sebagai Rais Aam. Ia mengungkapkan sejumlah versi mengenai proses di balik keputusan tersebut, termasuk dinamika antarfigur dan kelompok yang disebutnya memiliki kepentingan dalam konfigurasi kepemimpinan NU.
Namun, sejumlah bagian tersebut merupakan analisis dan versi sumber Dahlan, sehingga tidak dapat diposisikan sebagai fakta yang telah terverifikasi secara independen.
Sementara itu, terpilihnya Gus Kikin relatif lebih mudah dijelaskan melalui proses penjaringan. Pengasuh Pesantren Tebuireng tersebut memperoleh dukungan tertinggi dengan 472 suara, mengungguli KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Sochib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Abdul Ghofar Rozin 155 suara.
Dahlan menilai latar belakang Gus Kikin sebagai pengusaha sekaligus penerus Pesantren Tebuireng akan menjadi modal penting dalam memimpin PBNU. Ia secara khusus menyinggung pengelolaan aset ekonomi NU, termasuk tambang batu bara, sebagai salah satu tantangan besar kepemimpinan baru.
Pada akhirnya, catatan Dahlan menempatkan isu uang, kekuasaan, reputasi dan tata kelola organisasi sebagai pekerjaan rumah kepemimpinan PBNU periode 2026–2031. Tantangan Gus Kikin bukan hanya menjaga soliditas internal NU, tetapi juga memastikan kekuatan ekonomi organisasi tidak justru menjadi sumber persoalan baru.
Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menutup Muktamar ke-35 NU pada Senin (31/8/2026) dan menyampaikan ucapan selamat kepada Miftachul Akhyar serta Gus Kikin atas amanah baru tersebut. (MU01)


