MonitorUpdate.com – Bareskrim Polri membongkar aktivitas peredaran narkoba yang diduga sudah lama beroperasi di kawasan Gang Langgar, Jalan Sultan Hasanuddin, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur. Dalam penggerebekan itu, polisi menangkap 11 orang yang disebut bagian dari sindikat narkoba dengan omzet fantastis mencapai ratusan juta rupiah per hari.
Operasi dilakukan Subdirektorat IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Satgas NIC. Aparat menyisir kawasan yang selama ini disebut warga sebagai “kampung narkoba” di Kota Samarinda.
Sebanyak 11 terduga pelaku diamankan dalam operasi tersebut. Polisi menyebut para pelaku sempat berupaya kabur dan melakukan perlawanan hingga membahayakan warga sekitar, sehingga petugas terpaksa mengambil tindakan tegas terukur.
Baca Juga: Dipecat! Eks Kapolres Bima Kota Terbukti Narkoba, Terima Uang Bandar hingga Asusila
“Sindikat narkoba yang beroperasi di Kampung Narkoba Gang Langgar, Kota Samarinda, berhasil digulung tim gabungan,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Eko Hadi Santoso dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).
Dari penggerebekan itu, aparat turut menyita sejumlah barang bukti berupa narkotika, alat timbang digital, alat hisap, hingga perangkat elektronik yang diduga digunakan untuk transaksi penjualan narkoba.
Kesebelas tersangka kemudian diterbangkan ke Jakarta dan tiba di Gedung Bareskrim Polri pada Sabtu petang sekitar pukul 18.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Bareskrim menduga jaringan tersebut telah menjalankan bisnis haramnya selama kurang lebih empat tahun. Nilai transaksi yang beredar disebut tidak kecil.
“Omset penjualan narkoba sehari Rp150-200 juta,” kata Eko.
Jika angka itu benar, maka perputaran uang dari bisnis narkoba di kawasan tersebut diperkirakan bisa mencapai miliaran rupiah setiap bulan. Fakta itu sekaligus memperlihatkan bagaimana kampung-kampung yang diduga menjadi basis peredaran narkoba masih tumbuh di sejumlah daerah dan sulit diberantas tanpa pengawasan berkelanjutan.
Kasus ini juga kembali menyoroti tantangan aparat dalam memutus mata rantai distribusi narkoba di wilayah permukiman padat penduduk. Selain faktor ekonomi, pola peredaran yang terorganisasi dan berlangsung bertahun-tahun diduga membuat jaringan semacam ini sulit disentuh tanpa operasi besar.
Hingga kini, Bareskrim Polri masih mendalami kemungkinan adanya aktor lain yang terlibat, termasuk pemasok utama dan aliran keuangan sindikat tersebut. (MU01)
