MonitorUpdate.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/10/2026). Dampaknya bukan sekadar mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menghambat operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II.
Jarak pandang di bandara sempat merosot hingga 400 meter, jauh di bawah batas minimum operasional penerbangan. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 15 penerbangan terdampak hingga pukul 13.00 WIB. Sementara itu, laporan ANTARA menyebut jumlahnya mencapai 30 penerbangan hingga perkembangan berikutnya pada Kamis sore.
General Manager Bandara SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Sahab, menjelaskan bahwa gangguan terjadi pada penerbangan keberangkatan maupun kedatangan. Penyesuaian operasional dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi jarak pandang dan keselamatan penerbangan.
Baca Juga: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, BMKG Wanti-wanti Ancaman Kekeringan hingga Karhutla
Dari 15 penerbangan yang tercatat terdampak hingga pukul 13.00 WIB, delapan merupakan penerbangan keberangkatan, antara lain rute Palembang–Jakarta, Palembang–Pangkalpinang, dan Palembang–Kuala Namu.
Sementara itu, tujuh penerbangan kedatangan yang terdampak berasal dari sejumlah rute, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Jeddah, dan Kuala Lumpur. Sejumlah maskapai yang tercatat antara lain Super Air Jet, Garuda Indonesia, Citilink, dan AirAsia.
BNPB: Warga Diminta Gunakan Masker
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S. P. Panjaitan, menyampaikan bahwa asap pekat akibat karhutla membuat masyarakat tidak nyaman beraktivitas.
BNPB mengimbau warga untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan asap. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan saat berkendara karena jarak pandang yang menurun.
Di sisi penanganan, Satgas Darat dan Udara terus melakukan upaya pemadaman di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Berdasarkan data BNPB per 7 Oktober 2026, prioritas penanganan meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Muara Enim, dan Ogan Komering Ulu.
Di OKI, tujuh titik api dilaporkan membakar lahan seluas sekitar 56 hektare. Sementara itu, satu titik api di Musi Banyuasin membakar sekitar 10 hektare, satu titik di Muara Enim sekitar 15 hektare, dan satu titik di Ogan Komering Ulu sekitar satu hektare.
Hingga 7 Oktober 2026, Satgas Darat dan Udara dilaporkan telah memadamkan kebakaran pada lahan seluas 319,41 hektare. Namun, sekitar 71,20 hektare lahan yang masih terbakar masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan masyarakat, mobilitas warga, dan kelancaran transportasi udara.
Penumpang yang hendak bepergian melalui Bandara SMB II diimbau untuk memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing, terutama mengenai perubahan jadwal keberangkatan maupun kedatangan.
Kabut asap yang berulang menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla perlu dilakukan secara konsisten, baik melalui pemadaman di lapangan maupun pencegahan kebakaran. Keselamatan penerbangan dan perlindungan kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas. (MU01)


