MonitorUpdate.com — Bogor selama ini identik dengan udara sejuk dan curah hujan tinggi. Namun, citra tersebut perlahan menghadapi tantangan. Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat semakin merasakan udara Bogor lebih terik dan gerah, terutama pada siang hari.
Fenomena tersebut ternyata bukan semata-mata perasaan warga. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan adanya peningkatan suhu permukaan dan fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan di Kota Bogor.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, menjelaskan bahwa peningkatan suhu di Bogor merupakan hasil kombinasi berbagai faktor, mulai dari fenomena iklim global, pemanasan global hingga perubahan tutupan lahan akibat pesatnya urbanisasi.
“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, dalam periode tertentu kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujar Givo dalam keterangan IPB University, Juli 2026.
Menurut dia, kondisi El Nino yang berkembang pada 2026 menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas. Berkurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Namun, Givo menegaskan El Nino hanya merupakan pemicu jangka pendek. Persoalan yang lebih mendasar adalah perubahan iklim global yang menyebabkan tren suhu meningkat dari tahun ke tahun.
“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” katanya.
Urbanisasi Ikut Memanaskan Bogor
Selain faktor iklim global, perubahan wajah Kota Bogor turut memperkuat fenomena panas perkotaan.
Penelitian IPB University menunjukkan luas kawasan terbangun di Kota Bogor meningkat dari 7,47 persen pada 2013 menjadi 11,20 persen pada 2023. Pada periode yang sama, tutupan vegetasi rapat turun dari 13,52 persen menjadi 10,24 persen.
Penelitian tersebut juga menemukan wilayah dengan suhu permukaan di atas 29,9 derajat Celsius mencapai 48,15 persen luas Kota Bogor pada 2023. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara berkurangnya vegetasi dengan meningkatnya suhu permukaan.
Kajian lain IPB yang mengamati periode 2013–2022 bahkan menemukan luas lahan terbangun bertambah sekitar 14,78 kilometer persegi. Persentase kawasan terbangun meningkat dari 54,176 persen menjadi 67,315 persen.
Dalam periode tersebut, suhu permukaan rata-rata Kota Bogor meningkat sekitar 2,96 derajat Celsius. Penelitian juga menemukan korelasi kuat antara pertambahan lahan terbangun dan peningkatan suhu permukaan, dengan nilai korelasi 0,6478.
Angka tersebut, bagaimanapun, harus dibaca secara hati-hati. Kenaikan 2,96 derajat Celsius merupakan suhu permukaan atau Land Surface Temperature (LST), bukan kenaikan suhu udara rata-rata Kota Bogor sebesar 2,96 derajat Celsius.
Pusat Kota Lebih Panas
Fenomena UHI juga tidak terjadi secara merata. Penelitian IPB menemukan kawasan dengan suhu lebih tinggi terkonsentrasi di pusat Kota Bogor, terutama wilayah Bogor Tengah. Tingginya kepadatan kawasan terbangun menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan suhu permukaan.
Dalam kajian lainnya, tipe kawasan dengan kepadatan bangunan tertentu di wilayah Bogor bahkan menunjukkan intensitas UHI sangat tinggi dengan rata-rata suhu permukaan sekitar 30,4–31,3 derajat Celsius.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tanpa keseimbangan ruang hijau dapat memperkuat panas yang dirasakan masyarakat.
Givo mengatakan, menjaga tutupan vegetasi harus menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan Kota Bogor.
“Masyarakat dapat berkontribusi melalui penghijauan lingkungan dan penerapan bangunan yang lebih adaptif terhadap panas. Sementara pemerintah perlu memperkuat tata ruang berbasis iklim dan memperluas ruang terbuka hijau,” katanya.
Menurut Givo, pohon merupakan solusi alami yang efektif untuk menurunkan suhu udara, mengurangi efek UHI sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
BMKG: 2026 Dipengaruhi El Nino
Kondisi panas Bogor tahun ini juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika iklim global.
BMKG menyatakan fenomena El Nino telah aktif pada 2026. Dalam analisis Dasarian II Juli 2026, indeks suhu muka laut wilayah Nino 3.4 mencapai +2,26, yang menunjukkan El Nino dengan intensitas kuat. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah Jawa Barat.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
“Kami telah menyampaikan sejak bulan Maret bahwa tahun ini akan terjadi fenomena El Nino,” ujar Faisal dalam rapat koordinasi pada Juni 2026.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September, dengan Agustus menjadi periode puncak bagi hampir separuh wilayah Indonesia berdasarkan zona musim.
Lantas, Masihkah Bogor Layak Disebut Kota Hujan?
Jawabannya masih. Peningkatan suhu tidak otomatis menghilangkan karakter klimatologis Bogor sebagai wilayah dengan curah hujan tinggi.
Persoalannya justru lebih kompleks. Bogor dapat tetap menerima hujan tinggi, tetapi pada saat yang sama mengalami peningkatan suhu akibat perubahan iklim, urbanisasi, berkurangnya vegetasi dan meluasnya permukaan beton serta aspal.
Dengan kata lain, Bogor bukan sedang kehilangan status sebagai Kota Hujan, tetapi berpotensi kehilangan kesejukan yang selama ini melekat pada identitasnya.
Penelitian IPB menunjukkan ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam mengurangi dampak UHI. Karena itu, pengembangan taman kota, koridor hijau, revitalisasi lahan terbuka serta desain bangunan yang lebih adaptif terhadap panas menjadi bagian penting dari strategi mitigasi.
Di tengah pesatnya pembangunan, tantangan Pemerintah Kota Bogor bukan sekadar mempertahankan jumlah ruang terbuka hijau di atas kertas.
Lebih dari itu, diperlukan tata ruang yang mampu menjaga konektivitas vegetasi, memperbanyak pohon peneduh, mengurangi dominasi permukaan kedap air dan memastikan pembangunan tidak mengorbankan keseimbangan ekologis kota.
Sebab, pertanyaan bagi Bogor hari ini bukan lagi sekadar: “Apakah Bogor masih menjadi Kota Hujan?” Melainkan: “Mampukah Bogor tetap menjadi Kota Hujan tanpa kehilangan kesejukan dan ruang hijaunya?”
(MU01)


