MonitorUpdate.com — Di tengah naiknya biaya hidup dan tekanan ekonomi rumah tangga yang makin kompleks, perempuan kini tak hanya berperan sebagai pengatur kebutuhan harian keluarga, tetapi juga menjadi penentu arah stabilitas finansial jangka panjang. Mulai dari mengelola pengeluaran bulanan hingga merancang strategi memiliki rumah impian, peran ibu disebut semakin krusial di era modern.

Fenomena itu mengemuka dalam talk show daring bertajuk “Kartini Jaman Now: Pintar Atur Uang, Wujudkan Rumah Impian” yang digelar perusahaan teknologi properti Pinhome bersama perencana keuangan Jennittya Fitri Hidayat dan Head of Finance Komunitas Ibu Punya Mimpi, Rizky Amalia.

Dalam diskusi tersebut, Jennittya menilai perempuan, khususnya ibu rumah tangga, memiliki posisi strategis dalam menjaga kesehatan finansial keluarga. Menurutnya, meski tidak selalu menjadi pencari nafkah utama, ibu kerap menjadi pihak yang menentukan prioritas pengeluaran keluarga.

“Ibu itu sebenarnya ‘Menteri Keuangan’ keluarga. Dari kebutuhan sehari-hari sampai target besar seperti rumah impian, semua sangat bergantung pada bagaimana pengeluaran diatur,” ujar Jennittya dalam keterangannya, Selasa (20/5/2026).

Namun di balik peran besar tersebut, tantangan finansial keluarga juga dinilai semakin rumit. Rizky Amalia mengingatkan masih banyak pengeluaran kecil yang kerap dianggap sepele, tetapi diam-diam menggerus kondisi keuangan rumah tangga.

Mulai dari ongkos kirim, parkir, biaya administrasi digital, hingga kebiasaan belanja impulsif lewat aplikasi daring disebut menjadi sumber “kebocoran halus” yang sering luput dari perencanaan bulanan.

“Kalau dikumpulkan, nominalnya bisa sangat besar. Karena itu disiplin terhadap anggaran jadi penting, termasuk menyiapkan pos pengeluaran tak terduga,” kata Rizky.

Sorotan terhadap pentingnya literasi finansial perempuan muncul di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih dibayangi tekanan daya beli dan tingginya biaya kebutuhan dasar. Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengelola cicilan dinilai menjadi faktor penting agar keluarga tidak terjebak tekanan finansial berkepanjangan.

Jennittya menyarankan total cicilan utang keluarga idealnya tidak melebihi 35 persen dari penghasilan bulanan. Bahkan untuk keluarga dengan penghasilan tunggal atau tidak tetap, angka aman disebut berada di kisaran 20 hingga 25 persen.

“Impian punya rumah harus bikin keluarga tenang, bukan malah setiap tanggal tagihan bikin stres,” ujarnya.

Di sisi lain, tren kebutuhan hunian juga mulai bergeser. Masyarakat kini tidak hanya mencari rumah dengan harga terjangkau, tetapi juga mulai mempertimbangkan skema pembiayaan yang lebih ringan dan fleksibel.

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan layanan simulasi cicilan hingga fitur KPR takeover kini semakin diminati masyarakat karena dianggap mampu menekan beban angsuran rumah.

Menurut Dayu, skema KPR takeover memberi peluang bagi nasabah untuk kembali mendapatkan bunga fixed dengan cicilan yang lebih ringan. Bahkan, penghematan disebut bisa mencapai hingga 40 persen.

“Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, masyarakat mulai mencari cara agar cicilan rumah lebih sehat dan tidak membebani cash flow keluarga,” kata Dayu.

Meski demikian, pengamat finansial mengingatkan kemudahan akses kredit tetap perlu diimbangi dengan edukasi keuangan yang memadai. Tanpa pengelolaan yang disiplin, berbagai fasilitas pembiayaan justru berpotensi memicu utang konsumtif baru.

Karena itu, literasi finansial perempuan dinilai bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

“Mengatur keuangan bukan berarti pelit, tapi memastikan uang dipakai untuk hal yang benar-benar penting bagi keluarga,” tutur Jennittya. (MU01)