MonitorUpdate.com -Di tengah gelombang protes global terhadap kekejaman perang yang menelan korban anak-anak di Gaza dan Donbas, seorang jurnalis Rusia memilih cara berbeda: seni sebagai bentuk perlawanan.
Uliana Kamal, koresponden Russia Today untuk kawasan Asia Tenggara, menyuarakan penolakannya terhadap kekerasan bersenjata lewat aksi simbolik yang menyentuh hati.
Bertempat di Rumah Rusia, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 1 Juni 2025, Uliana memimpin sebuah aksi damai bertajuk Crane of Peace melipat origami burung bangau bersama para tamu undangan.

“Perang menghancurkan kemanusiaan. Tapi kita tak boleh kehilangan harapan,” ujarnya lirih namun tegas di hadapan para tamu yang mencakup tokoh diplomatik, aktivis, dan jurnalis.
Dalam acara tersebut, ratusan burung bangau kertas hasil lipatan para peserta ditempelkan pada dua kanvas besar, membentuk simbol perdamaian. Burung bangau dipilih karena makna historis dan filosofisnya sebagai lambang harapan dan kedamaian, merujuk pada kisah Sadako Sasaki, gadis Jepang yang melipat 1.000 burung bangau sebagai doa untuk kesembuhan dan perdamaian pasca bom atom Hiroshima.
“Seni dapat berbicara lebih dalam dari pidato atau tulisan. Ini cara kami memprotes genosida, pembantaian anak-anak, dan kekejaman perang dengan kelembutan,” kata Uliana.
Aksi ini dihadiri oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov, Duta Besar Palestina Zuhair S.M. Alshun, Ketua Umum Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) Ismail Lutan, serta sejumlah aktivis perdamaian dan jurnalis dari berbagai media.
Melalui lipatan-lipatan sederhana, pesan damai disuarakan tanpa teriakan. Burung-burung bangau kertas itu menjadi simbol perlawanan terhadap kekerasan — senyap namun bermakna. (MU01)









