Anies Baswedan dan Politik Tidak Meninggalkan Barisan

 

MonitorUpdate.com – Di tengah realitas politik yang kerap didominasi kepentingan pribadi, sikap Anies Baswedan pada Jumat, 18 Juli 2025, berbicara dengan cara yang berbeda.

Saat menghadiri sidang vonis terhadap rekannya, Tom Lembong, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ia menolak perlakuan istimewa dan memilih berdiri bersama rombongannya.

Cerita ini disampaikan langsung oleh aktivis dan pengamat politik, Geiz Chalifah, yang turut hadir dalam rombongan. Melalui akun Instagram pribadinya, @geizchalifah, ia membagikan pengalaman yang menurutnya menjadi potret otentik kepemimpinan.

“Anies dipersilakan aparat untuk masuk lebih dulu. Tapi dia berhenti di depan pagar. Dia tidak ingin masuk sebelum seluruh rombongan diizinkan ikut masuk. Dia memilih berdiri di sana, bersama kami,” tulis Geiz dalam unggahannya.

Menurut Geiz, Anies baru melangkah masuk setelah semua orang yang bersamanya telah berada di dalam. Ia bahkan sempat memberikan ucapan terima kasih kepada petugas keamanan yang berjaga.

Dalam suasana sidang yang tegang dan penuh pembatasan, sikap ini mungkin terlihat sederhana. Tapi di tengah iklim politik yang kerap diwarnai sikap lepas tangan, tindakan seperti ini menjadi simbol keberpihakan. Bukan hanya kepada teman lama seperti Tom Lembong, tetapi juga kepada nilai kesetiaan yang kian langka.

Geiz menambahkan, “Dia bukan tipe pemimpin yang mencari perlakuan khusus. Dia tidak meninggalkan orang-orangnya. Bahkan ia datang, menemani Tom sejak awal proses hukum, hingga persidangan hari ini.”

Dalam banyak kasus, para elit politik sering kali memilih diam atau mengambil jarak ketika sekutunya terjerat kasus hukum. Namun Anies memilih hadir.

Ia mengunjungi Tom di tahanan, memberikan penjelasan ke media, dan hadir hingga vonis dijatuhkan. “Dia memimpin barisan dan semua barisan terselesaikan,” tulis Geiz di akhir unggahannya.

Tentu saja, satu peristiwa tidak bisa menggambarkan seluruh karakter kepemimpinan seseorang. Namun dalam politik yang kian kosmetik, isyarat kecil seperti ini berbicara lebih lantang dari pidato kampanye.

Bahwa di tengah keramaian yang gemar bersolek, ada pemimpin yang memilih berdiri di belakang barisannya—hingga semua selamat sampai tujuan.Dan hari itu, Anies Baswedan melakukannya tanpa banyak bicara.

(mu01)

Share this article