MonitorUpdate.com – Berawal dari hobi menanam pohon untuk mendukung penghijauan desa, H. Achmad Dahlan, mantan Kepala Desa Cidokom, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, kini berhasil mengembangkan tanaman baobab menjadi peluang bisnis bernilai ekonomi.
Kisah tersebut disampaikan Achmad Dahlan saat wawancara khusus dengan MonitorUpdate.com, Selasa (11/8/2026), di lapak tanaman hias miliknya di Perumahan Puri Husada Agung.
Achmad Dahlan menuturkan, ketertarikannya terhadap tanaman baobab bermula ketika dirinya masih menjabat sebagai kepala desa. Saat itu, kegiatan menanam pohon dilakukan sebagai bagian dari upaya penghijauan di lingkungan desa.
“Tidak terpikir yang saya tanam ini akan menjadi nilai ekonomis. Awalnya hanya semangat untuk menanam dalam rangka penghijauan di desa,” ujarnya.
Baca Juga : Berapa Gaji Kades, Sekdes dan Perangkat Desa?Yuk! Kita Simak Ulasannya
Seiring waktu, kegiatan tersebut justru berkembang menjadi hobi. Dari kegemarannya merawat dan membudidayakan baobab, Achmad Dahlan mulai melihat adanya peluang bisnis, terutama karena tanaman tersebut tergolong langka dan memiliki karakteristik unik.
Baobab merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Madagaskar. Di Indonesia, tanaman yang juga dikenal dengan sebutan “pohon kaki gajah” itu mulai menarik perhatian para pencinta tanaman, termasuk konsumen dari luar negeri yang berada di Indonesia.
“Semakin berkembang zaman, relasi kita dari luar negeri maupun mancanegara yang ada di Indonesia mulai tertarik menanam baobab,” katanya.
Baca Juga : Bukan Sekadar Lomba, MTQ Desa Kemang Jadi Ajang Syiar Islam yang Menggugah Generasi Muda
Menurut Achmad Dahlan, salah satu daya tarik utama baobab adalah kemampuannya beradaptasi serta relatif mudah dalam perawatan. Tanaman tersebut juga dikenal memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar.
“Baobab ini disebut pohon kehidupan. Cara perawatannya juga lebih mudah. Selain itu, punya kandungan simpanan air yang tinggi,” jelasnya.
Ia menilai karakteristik tersebut semakin relevan dengan kondisi iklim yang semakin panas. Karena itu, Ahmad Dahlan berharap tanaman baobab tidak hanya dikembangkan sebagai tanaman hias, tetapi juga mulai diperkenalkan lebih luas di lingkungan perkantoran, instansi pemerintah maupun rumah masyarakat.
“Dengan iklim kita yang semakin panas sekarang, bagaimana kita berpikir terutama pohon baobab ini harus dikembangkan. Pemerintah, kantor-kantor, instansi, bahkan rumah pribadi juga bisa menanam baobab,” tuturnya.
Penghasilan Puluhan Juta dari Tanaman
Dari sisi bisnis, usaha tanaman yang dirintis dari hobi tersebut kini mampu memberikan penghasilan yang cukup besar. Ahmad Dahlan mengungkapkan, omzet bersih yang diperoleh dari penjualan baobab dan berbagai tanaman lainnya dapat mencapai sekitar Rp100 juta per bulan ketika kondisi pasar sedang ramai.
“Kalau laba bersih per bulan sedang bagus, dari penjualan baobab dan tanaman lainnya bisa sekitar Rp100 juta. Kalau sedang sepi, paling sekitar Rp50 juta,” ungkapnya.
Tidak berhenti pada penjualan baobab dalam bentuk tanaman biasa, Ahmad Dahlan kini mulai melakukan inovasi untuk meningkatkan nilai jual tanaman. Salah satunya dengan mengembangkan baobab variegata, yang memiliki karakteristik visual berbeda dan nilai jual lebih tinggi.
“Sekarang saya kembangkan baobab variegata. Nilainya juga lebih tinggi dan penjualannya lebih tinggi,” katanya.
Selain variegata, ia juga mulai mengembangkan baobab dalam bentuk bonsai. Tanaman yang selama ini dikenal memiliki ukuran sangat besar tersebut dikembangkan menjadi tanaman bonsai dengan bentuk dan karakter yang memiliki nilai estetika tersendiri.
Menurutnya, baobab bonsai yang telah terbentuk dengan baik dapat memiliki nilai jual sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta per pohon.
Baobab Besar di Indonesia Makin Langka
Di balik peluang bisnis tersebut, Achmad Dahlan juga menyoroti semakin langkanya pohon baobab berukuran besar di Indonesia.
Ia menyebut pohon baobab berukuran raksasa dengan lingkar batang sekitar 15 hingga 20 meter kini semakin sulit ditemukan. Menurutnya, hanya terdapat beberapa pohon baobab tua yang masih bertahan di Indonesia.
“Yang besar-besar di kita sudah hampir punah. Untuk lingkar 15 sampai 20 meter, di Indonesia tinggal sekitar delapan pohon indukan yang usianya sudah 400 tahun,” ujarnya.
Achmad Dahlan menyebut keberadaan sejumlah pohon tua tersebut tidak terlepas dari sejarah masuknya baobab ke Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi alasan penting untuk melakukan pembudidayaan. Dengan pengembangan melalui pembibitan dan bonsai, tanaman baobab dapat tetap lestari sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Untuk mendapatkan barang-barang yang lebih praktis, bentuknya bagus, dan karakternya besar, sekarang agak susah mendapatkan baobab di Indonesia,” katanya.
Bagi Achmad Dahlan, perjalanan dari sekadar hobi menanam hingga menjadi bisnis memberikan pelajaran bahwa kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membuka peluang ekonomi.
Kini, ia tidak hanya menjadikan baobab sebagai komoditas tanaman hias, tetapi juga berupaya mengembangkan varietas dan bentuk baru agar tanaman langka tersebut memiliki nilai tambah sekaligus tetap lestari di Indonesia.(MU02)


