MonitorUpdate.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah dinilai tidak seharusnya berhenti pada seremoni keagamaan. Momentum tersebut justru dapat menjadi ruang refleksi untuk menjawab persoalan bangsa, mulai dari korupsi, ketimpangan ekonomi, intoleransi hingga degradasi moral.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM, di Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Masyhuril mengajak umat Islam tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menghadirkan kembali nilai kepemimpinan, akhlak dan perjuangan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus memaknai Maulid Rasul tentu tidak sekadar merayakan kelahiran, tetapi melahirkan kembali semangat, akhlak, dan ajaran Nabi ke dalam kehidupan nyata,” ujar Masyhuril.

Ketika Kepemimpinan Diuji Kepentingan
Menurut Masyhuril, Rasulullah SAW memberikan contoh kepemimpinan yang mengedepankan amanah, musyawarah dan toleransi, namun tetap tegas dalam menegakkan hukum.

Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin di Indonesia agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai instrumen kepentingan pribadi, keluarga ataupun kelompok.

“Keteladanan Nabi Muhammad SAW dari sisi kepemimpinan adalah Beliau amanah, selalu mengutamakan musyawarah, tetap toleransi, tetapi berani bersikap tegas dalam menerapkan hukum, meskipun itu terjadi kepada anaknya sendiri,” katanya.

Baca Juga: Haji 2027 Mulai Dipersiapkan, Al Washliyah Dorong Regulasi Lebih Transparan dan Sinergi dengan Saudi

Ia menilai, kepemimpinan yang berintegritas harus menempatkan keadilan dan kemaslahatan masyarakat di atas kepentingan kelompok.

Ekonomi Nabi dan Keberpihakan kepada Masyarakat Kecil
Tak hanya soal kepemimpinan, Masyhuril juga menyoroti aspek ekonomi dalam keteladanan Rasulullah SAW.

Menurut dia, Rasulullah tidak hanya membangun masyarakat dari sisi spiritual, tetapi juga memberikan perhatian terhadap aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Rasul membangun pasar, mendorong tumbuhnya usaha-usaha masyarakat atau UMKM. Itu merupakan bagian dari keadilan ekonomi, kepedulian sosial, dan semuanya dibalut dengan akhlak yang mulia,” ujarnya.

Karena itu, Masyhuril memandang penguatan UMKM, pemberdayaan ekonomi umat dan pengembangan ekonomi syariah dapat menjadi bagian dari upaya menerjemahkan nilai-nilai Rasulullah dalam konteks kekinian.

Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, tidak cukup hanya diukur dari peningkatan angka ekonomi nasional. Pembangunan juga harus memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat luas.

Empat Persoalan yang Disorot
Masyhuril menyebut sedikitnya empat persoalan yang menjadi tantangan bangsa saat ini, yakni korupsi, intoleransi, ketimpangan ekonomi dan degradasi moral.

“Inilah yang saat ini sangat relevan untuk menjawab tantangan Indonesia yang sarat dengan korupsi, intoleransi, ketimpangan ekonomi, dan degradasi moral,” katanya.

Ia menilai persoalan tersebut saling berkaitan. Lemahnya integritas dapat membuka ruang korupsi, ketimpangan dapat melahirkan ketidakadilan sosial, sementara intoleransi dan kemerosotan moral berpotensi mengganggu persatuan masyarakat.

“Sebab aspek-aspek ini saling berkaitan dalam membangun bangsa yang beradab, sejahtera, dan bersatu,” ujarnya.

Maulid Harus Melahirkan Perubahan
Masyhuril berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada acara seremonial maupun ungkapan kecintaan secara lisan.

Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan melalui tindakan nyata, antara lain dengan memperkuat kejujuran, kepedulian sosial, musyawarah, serta membangun perekonomian yang memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat.

Ia juga mengajak keluarga besar Al Jam’iyatul Washliyah dan seluruh umat Islam menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman, baik dalam keluarga, pendidikan, pemerintahan, dunia usaha maupun kehidupan sosial.

“Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai Rasulullah dalam keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan ekonomi. Dengan begitu, kita tidak hanya mencintai Nabi melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata,” tuturnya.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Al Jam’iyatul Washliyah mendorong umat Islam menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai inspirasi untuk memperkuat persatuan, melawan korupsi, mengurangi kesenjangan ekonomi dan meneguhkan akhlak sebagai fondasi kehidupan berbangsa. (MU01)