MonitorUpdate.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak para penulis Indonesia mengambil peran dalam memperkuat literasi anak melalui penyediaan buku-buku berkualitas. Pemerintah bahkan membuka peluang bagi karya penulis untuk dibeli negara setelah melalui proses kurasi sebagai bagian dari upaya memperkaya bahan bacaan bagi peserta didik.
Ajakan tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., dalam Sajid Friday Morning Talk yang digelar Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurut Biyanto, Indonesia hingga kini masih menghadapi keterbatasan buku anak yang berkualitas, baik dari sisi isi maupun daya tarik bagi pembaca usia dini. Padahal, buku menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun karakter, imajinasi, dan budaya membaca sejak usia sekolah.
“Kita kekurangan buku-buku yang bagus. Kalau ada teman-teman yang punya hobi menulis, bukunya bisa ditawarkan ke kami. Nanti ada tim kurasi yang menilai. Kalau sesuai kebutuhan kami dan sesuai minat anak-anak, buku itu bisa kami beli lewat Pusat Perbukuan,” kata Biyanto.
Ia menjelaskan, mekanisme tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam memperluas ketersediaan bacaan bermutu yang dapat dimanfaatkan sekolah maupun masyarakat.
Tak hanya memperkuat budaya membaca, Kemendikdasmen juga berupaya menghidupkan kembali lagu-lagu anak yang dinilai semakin jarang diproduksi. Menurut Biyanto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti telah menciptakan sejumlah lagu anak, di antaranya Hari Baru dan Rukun Sama Teman.
Lagu Hari Baru bahkan telah diaransemen oleh musikus Dwiki Dharmawan dan digunakan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter.
Dalam kesempatan itu, Biyanto juga menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak di era digital. Mengutip buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, ia menyebut telah terjadi pergeseran pola tumbuh kembang anak dari play-based childhood menuju phone-based childhood, yakni dari aktivitas bermain di ruang nyata menjadi kehidupan yang didominasi penggunaan telepon pintar.
Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada menurunnya aktivitas fisik anak dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, mulai dari obesitas hingga gangguan penglihatan, pendengaran, dan kesehatan gigi.
Karena itu, pemerintah menilai pendekatan yang lebih realistis bukan dengan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan menghadirkan lebih banyak konten digital dan bahan bacaan yang edukatif.
“Menjauhkan mereka dari media tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pilihan, baik berupa bacaan yang baik maupun konten-konten yang membangun karakter mereka, sehingga mereka bertumbuh menjadi generasi emas, bukan generasi cemas,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Kemendikdasmen telah menghadirkan platform Rumah Pendidikan, yang menyediakan berbagai layanan pendidikan dan konten pembelajaran digital. Platform ini diharapkan menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengakses materi edukatif yang aman dan berkualitas di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Biyanto menegaskan, penguatan ekosistem literasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, penulis, penerbit, pendidik hingga masyarakat. Menurutnya, ketersediaan buku dan konten berkualitas menjadi salah satu investasi penting untuk menyiapkan generasi Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (MU01)


