MonitorUpdate.com – Pemerintah mengingatkan jemaah haji Indonesia agar mulai menghemat tenaga menjelang fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Suhu ekstrem di Tanah Suci yang mencapai 42 derajat Celsius dinilai berpotensi memicu kelelahan hingga gangguan kesehatan serius, terutama bagi jemaah lanjut usia dan berisiko tinggi.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta jemaah mengurangi aktivitas yang tidak mendesak, khususnya di luar hotel pada siang hari, demi menjaga kondisi fisik menghadapi puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan fase Armuzna membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual yang prima karena menjadi titik terpadat sekaligus paling menguras energi selama pelaksanaan haji.

Baca Juga: Ratusan Jemaah Haji RI Dirawat di RS Arab Saudi, Cuaca Ekstrem Jadi Sorotan

“Jangan memaksakan diri melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak mendesak, terutama aktivitas di luar hotel pada siang hari,” kata Maria seperti dikutip dari haji.go.id, Senin (11/5/2026).

Menurut dia, kondisi cuaca di Mekkah dan Madinah saat ini berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius. Situasi tersebut membuat risiko dehidrasi, kelelahan, hingga serangan heatstroke meningkat, terutama bagi jemaah lansia dan penyandang penyakit penyerta.

Maria menegaskan, menjaga kesehatan bukan sekadar urusan medis, tetapi menjadi bagian penting dari ikhtiar menyempurnakan ibadah haji.

“Jemaah perlu mengutamakan kesehatan. Hemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, minum air putih yang cukup, dan selalu ikuti arahan petugas,” ujarnya.

Peringatan ini muncul di tengah tingginya perhatian terhadap kondisi kesehatan jemaah haji setiap musim haji. Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca panas ekstrem di Arab Saudi kerap menjadi tantangan serius, termasuk memicu meningkatnya kasus kelelahan dan gangguan pernapasan pada jemaah dari berbagai negara.

Kemenhaj juga memberi perhatian khusus kepada jemaah lansia, disabilitas, dan kelompok risiko tinggi. Mereka diminta segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami gejala seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, demam, batuk berat, atau penurunan kondisi tubuh.

“Jangan menunggu kondisi memburuk. Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji,” tegas Maria.

Selain kepada jemaah, Kemenhaj turut meminta peran aktif Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Organisasi pendamping haji itu diharapkan tidak hanya fokus pada manasik, tetapi juga memperkuat edukasi soal kesehatan, keselamatan, ketertiban, dan disiplin selama berada di Tanah Suci.

KBIHU juga diminta bersinergi dengan petugas haji Indonesia agar jemaah tidak melakukan aktivitas berlebihan yang berisiko mengganggu kesiapan menuju Armuzna.

Di tengah antusiasme jemaah menjalankan ibadah di Tanah Suci, pemerintah mengingatkan bahwa stamina menjadi faktor penentu kelancaran pelaksanaan puncak haji. Sebab, ibadah yang dipaksakan dalam kondisi tubuh menurun justru dapat berujung pada gangguan kesehatan serius saat fase Armuzna berlangsung. (MU01)